Cerpen Singkat Berjudul Kota yang Tak Pernah Selesai

Cerpen Singkat Berjudul Kota yang Tak Pernah Selesai

Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul Kota yang Tak Pernah Selesai, mengajarkan bahwa Berhentilah menunggu kesempurnaan. Mulailah dari yang kecil, dan selesaikan satu hal hari ini. Karena tanpa langkah pertama, tak akan ada garis akhir.

Kota yang Tak Pernah Selesai

Di sebuah kota yang aneh, jalan-jalan selalu dalam perbaikan, gedung-gedung setengah jadi, dan jembatan yang belum tersambung. Kota ini tidak memiliki nama, karena papan namanya pun belum dipasang. Penduduknya bekerja tanpa henti, tetapi tidak ada satu pun bangunan yang benar-benar selesai.

Di tengah hiruk-pikuk itu, hiduplah seorang pria bernama Rendra. Ia adalah seorang filsuf dan perencana kota. Setiap hari ia mencatat, menggambar, dan menyusun teori tentang bagaimana menyelesaikan kota ini. “Segalanya butuh sistem,” katanya. “Kita harus punya rencana besar, tahapan yang jelas, dan strategi yang sempurna.”

Namun, setiap kali ia hendak menuliskan rencana finalnya, selalu ada faktor baru yang muncul. Angin dari utara terlalu kencang, tanah di barat terlalu rapuh, matahari di musim panas terlalu terik. Ia pun kembali ke mejanya, merancang ulang segalanya, hingga tahun demi tahun berlalu tanpa ada satu pun proyek yang rampung.

Suatu hari, seorang tukang batu tua bernama Pak Saman datang ke kantor Rendra sambil membawa sebatang rokok kretek.

“Tuan Rendra,” katanya dengan santai, “kau tahu berapa lama aku membangun rumahku sendiri?”

Rendra menggeleng. “Sepuluh tahun? Dua puluh?”

Pak Saman tertawa. “Dua bulan. Aku mulai dari batu pertama, lalu dinding, lalu atap. Kalau aku menunggumu menyelesaikan teorimu, mungkin aku sudah mati sebelum punya rumah.”

“Tapi rumahmu pasti tidak sempurna,” bantah Rendra. “Bagaimana dengan fondasi? Bagaimana dengan ketahanan terhadap angin utara?”

“Oh, tentu tidak sempurna,” jawab Pak Saman. “Tapi aku tinggal di dalamnya, bukan dalam rencananya.”

Kata-kata itu menghantam Rendra seperti palu godam. Ia melihat sekelilingnya—para pekerja yang terus membangun tetapi tak pernah selesai, jembatan yang sudah bertahun-tahun tergantung tanpa ujung. Mungkin masalahnya bukan kurangnya rencana, tetapi terlalu banyak menunggu kesempurnaan.

Malam itu, Rendra mengambil cetak biru kota dan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. “Kita mulai dari yang kecil,” katanya kepada para pekerja. “Bangun satu rumah. Selesaikan satu jembatan. Jika kita berhenti karena ingin semuanya sempurna, kita tidak akan ke mana-mana.”

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kota itu, sesuatu akhirnya selesai.

Cerpen singkat berjudul Kota yang Tak Pernah Selesai, mengajarkan bahwa Berhentilah menunggu kesempurnaan. Mulailah dari yang kecil, dan selesaikan satu hal hari ini.