Cerpen Singkat Berjudul Allah, Aku Butuh WIFI!
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul Allah, Aku Butuh WiFi mengajak kita merenungkan bagaimana iman bisa diibaratkan seperti jaringan internet, kadang kuat, kadang terputus, tergantung seberapa sering kita “menghubungkannya” dengan doa dan ibadah.
Allah, Aku Butuh WIFI!
Sejak kecil, Redo dikenal sebagai anak yang cerdas tapi absurd. Saat anak-anak lain sibuk bermain layangan, ia sibuk meneliti kenapa sandal jepit lebih sering putus di saat genting. “Ini pasti konspirasi pabrik sandal!” serunya suatu hari saat melihat sendal jepitnya yang putus.
Namun, lambat laun, bertambahnya usia, membuat Redo tumbuh menjadi pemuda yang berpikir terbuka dan mendalam. Ia mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidupnya, dari hal-hal sederhana hingga yang paling filosofis.
Dari itulah, Redo mempunyai prinsip: jangan pernah meninggalkan shalat. “Itulah hubungan terdekatmu dengan Allah,” kata neneknya, yang sering mengingatkannya dulu.
Redo ingin menjadi seorang filsuf, namun ia juga ingin tetap taat beribadah. Seiring bertambahnya usia dan semakin dalam pemikirannya, pertanyaan-pertanyaan unik mulai muncul di kepalanya. Seperti, “Kenapa kita berdoa menghadap kiblat? Apakah Tuhan lebih dekat ke satu arah tertentu?” atau “Apakah kalau alien shalat, mereka harus menghadap Makkah juga?”
Hingga suatu hari, Redo mendapatkan ide gila.
Malam itu, di kamar kosnya yang berantakan, Redo melakukan eksperimen. Ia ingin menghubungi Tuhan langsung.
“Doa itu hubungan spiritual, kan? Lalu kalau aku pakai teknologi, mungkin sinyalnya lebih kuat!” katanya sambil menatap modem Wi-Fi yang berkedip pelan di sudut kamar.
Redo pun membuat pengumuman besar kepada teman-temannya di grup WhatsApp: “Malam ini, aku akan mencoba video call dengan Tuhan. Doakan lancar!”
Mereka mengira ia bercanda. Tapi Redo serius. Ia menyusun strategi:
- Berwudhu dulu, supaya sinyal spiritualnya bersih.
- Menggunakan VPN, siapa tahu Tuhan diblokir di beberapa negara.
- Memasang antena TV tua di kepalanya dengan lakban. “Biar kayak nabi yang mendapat wahyu,” katanya.
Tepat pukul 2 pagi, ia duduk bersila, membuka laptop, dan mulai mengetik di Google: “Cara menghubungi Tuhan langsung.”
Halaman pertama penuh dengan iklan MLM dan tawaran dukun online. Redo menghela napas. “Sepertinya Tuhan belum online.”
Namun, ketika ia hendak menyerah, tiba-tiba laptopnya berbunyi: KONEKSI ANDA TERPUTUS.
Mata Redo membelalak. Ini pertanda!
Ia menutup laptop, lalu berdiri untuk shalat tahajud. Saat sujud, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan sinyal Wi-Fi yang terhubung, tapi ada ketenangan aneh yang mengalir dalam dirinya.
Usai shalat, ia termenung. “Ternyata, selama ini aku nggak butuh teknologi untuk terhubung dengan Tuhan.”
Keesokan harinya, ia menghapus aplikasi VPN dari HP-nya dan menulis status baru: “Tuhan lebih cepat dari 5G. Jangan tinggalkan shalat.”
Di warung kopi, teman-temannya menyindirnya. “Gimana, bro? Udah dapet sinyal dari Tuhan?”
Redo tersenyum. “Bukan sinyal, bro. Tapi koneksi langsung, tanpa buffering.”
Dan sejak hari itu, Redo tetap menjadi filsuf absurd yang selalu berpikir aneh-aneh. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan: shalatnya. Sebab, ia tahu, tak perlu Wi-Fi untuk berbicara dengan Tuhan. Cukup sujud.
Tamat…
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul Allah, Aku Butuh WiFi mengajak kita merenungkan bagaimana iman bisa diibaratkan seperti jaringan internet, kadang kuat, kadang terputus, tergantung seberapa sering kita “menghubungkannya” dengan doa dan ibadah. Allah, Aku Butuh WIFI! Sejak kecil, Redo dikenal sebagai anak yang cerdas tapi absurd. Saat anak-anak lain sibuk bermain layangan, ia sibuk meneliti kenapa…