Cerpen Singkat Berjudul Menunggu Cahaya di Ujung Lorong
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul Menunggu Cahaya di Uujung Lorong, mengajarkan bahwa Jangan berhenti hanya karena belum melihat cahaya. Teruslah melangkah, karena setiap langkah membawamu lebih dekat ke tujuan.
Menunggu Cahaya di Ujung Lorong
Di sebuah kota tua yang tak memiliki peta, Damar berjalan tanpa arah. Lorong-lorongnya sempit, gelap, dan selalu berujung pada tembok yang tinggi. Namun, di dalam hatinya, ia percaya ada jalan keluar, ada sesuatu yang menantinya di ujung perjalanan ini.
Dulu, seorang lelaki tua pernah berkata padanya, “Jangan berhenti hanya karena belum melihat cahaya. Kadang kau harus terus berjalan dalam gelap sebelum menemukan terang.”
Damar menggenggam kata-kata itu erat-erat seperti obor dalam kegelapan. Tapi seiring waktu, langkahnya melambat. Setiap jalan yang ia tempuh tampak sama, penuh bayangan dan tanpa petunjuk.
Suatu malam, ia bertemu dengan seorang wanita yang duduk di bawah lampu minyak yang redup. “Ke mana kau pergi?” tanyanya.
“Aku mencari jalan keluar,” jawab Damar. “Tapi aku mulai berpikir tak ada ujungnya. Mungkin aku harus berhenti.”
Wanita itu tersenyum. “Kau tahu biji yang tertanam dalam tanah? Ia menghabiskan waktu berminggu-minggu di bawah kegelapan sebelum akhirnya menembus permukaan. Jika ia menyerah hanya karena tak melihat matahari, ia tak akan pernah tumbuh.”
Damar terdiam. Ia menatap lorong panjang di depannya. Tidak ada cahaya. Tidak ada tanda bahwa ia sudah dekat dengan tujuan. Tapi ia mengangkat kakinya dan melangkah.
Hari demi hari berlalu. Kadang langkahnya ringan, kadang terseok. Namun, ia terus berjalan.
Sampai suatu hari, ketika ia berbelok di tikungan yang kesekian ribu, ia melihatnya—setitik cahaya kecil di kejauhan.
Ia tertawa kecil. Bukan karena akhirnya melihat ujungnya, tapi karena ia menyadari sesuatu: bahwa setiap langkah yang ia ambil, meski dalam kegelapan, tidak pernah sia-sia.
Dan dengan hati yang lebih ringan, ia melanjutkan perjalanan, membiarkan kegelapan menguji kesabarannya, hingga akhirnya ia tiba pada cahaya yang telah lama menunggunya.
Cerpen singkat berjudul Menunggu Cahaya di Uujung Lorong, mengajarkan bahwa Jangan berhenti hanya karena belum melihat cahaya.