Cerpen Singkat Berjudul Hidayah Harus Dicari, Bukan Ditunggu
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul Hidayah Harus Dicari, Bukan Ditunggu, mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menunggu jawaban datang, tapi tentang bagaimana kita mengisinya. Jangan biarkan pemikiranmu hanya berputar tanpa arah—temukan makna, jalani, dan nikmati setiap prosesnya.
Hidayah Harus Dicari, Bukan Ditunggu
Aku bertemu Surya di warung kopi pinggir jalan, tempat di mana asap rokok lebih pekat dari kabut pagi dan diskusi filsafat lebih sering terjadi dibanding transaksi jual beli. Warung ini bukan sekadar tempat ngopi; ia adalah rumah bagi para pencari kebenaran, atau setidaknya mereka yang terlalu malas untuk bekerja dan memilih bertahan hidup dengan cara berdebat.
“Aku sudah tercerahkan,” kata Surya tiba-tiba, menyesap kopinya dengan penuh keyakinan.
Aku menatapnya dengan curiga. Terakhir kali dia bilang begitu, dia meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen karena merasa mengajarkan kebodohan yang sistematis. Sebelumnya, dia juga sempat menjadi vegetarian karena menganggap makan daging adalah barbarisme, sebelum akhirnya kembali makan ayam goreng setelah tiga hari karena, katanya, “hanya ayam yang benar-benar mengerti makna pengorbanan.”
“Tercerahkan bagaimana?” tanyaku, setengah malas.
Surya mengeluarkan sebuah buku tebal dari tasnya. Sampulnya bergambar seorang pria berjanggut panjang yang tatapannya menembus dimensi lain.
“Aku menemukan jawabannya di sini. Segala sesuatu itu sia-sia. Kerja itu sia-sia. Menjadi manusia pun sia-sia. Karena pada akhirnya, kita semua akan mati. Jadi kenapa harus repot-repot?” Surya tersenyum seperti biksu yang baru saja mencapai nirwana.
Aku menghela napas. “Kamu tahu nggak, Sur, kalau pemahamanmu ini juga sia-sia? Kalau segalanya sia-sia, kenapa kamu masih duduk di sini dan menyampaikan ini semua padaku? Bukankah itu juga bagian dari kesia-siaan?”
Surya terdiam. Matanya bergerak-gerak, mencari pembelaan. Aku tahu persis pola pikirnya—seorang intelektual yang lebih sering tersesat dalam labirin pikirannya sendiri daripada menemukan jalan keluar.
“Lalu, menurutmu apa? Hidup ini harus dijalani dengan semangat? Dengan kerja keras? Untuk apa? Supaya bisa beli rumah yang nanti diwariskan ke anak yang juga nanti mati?”
Aku mengangkat bahu. “Bukan masalah hasil akhirnya, Sur. Ini soal bagaimana kita mengisinya. Kamu mengisinya dengan berpikir sampai hampir gila, sementara aku memilih bekerja, menikmati kopi, dan sesekali menertawakan hidup.”
Seorang pelayan datang membawakan pesanan pisang goreng. Aku mengambil satu dan menggigitnya dengan nikmat. Surya, dengan segala pemikirannya yang kompleks, malah hanya menatap kosong ke arah gorengan itu.
“Jadi, menurutmu hidayah itu harus dicari, bukan ditunggu?” tanyanya akhirnya.
Aku mengangguk. “Kalau kamu menunggu, yang datang hanya lapar dan tagihan listrik. Hidayah itu seperti pisang goreng ini, kalau kamu diam saja, ia hanya akan dingin dan kehilangan rasanya. Tapi kalau kamu ambil dan nikmati, hidup jadi lebih masuk akal.”
Surya menghela napas panjang. “Berarti aku harus kerja lagi?”
Aku terkekeh. “Minimal bayar kopi sendiri.”
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul Hidayah Harus Dicari, Bukan Ditunggu, mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menunggu jawaban datang, tapi tentang bagaimana kita mengisinya. Jangan biarkan pemikiranmu hanya berputar tanpa arah—temukan makna, jalani, dan nikmati setiap prosesnya. Hidayah Harus Dicari, Bukan Ditunggu Aku bertemu Surya di warung kopi pinggir jalan, tempat di mana asap rokok lebih pekat…