Cerpen Singkat Berjudul Cahaya di Balik Kabut
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul cahaya di Balik Kabut, mengajarkan kepada kita untuk jangan biarkan kesibukan dunia membuatmu lupa akan ketenangan yang sesungguhnya. Luangkan waktu untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali mengingat-Nya
Cahaya di Balik Kabut
Langit menggantung kelabu, seolah menyimpan rahasia yang tak seorang pun bisa ungkap. Hujan rintik-rintik membasahi trotoar kota yang lengang. Hasan berjalan pelan, napasnya tersengal. Sejak beberapa bulan terakhir, dunia terasa semakin asing baginya. Waktu berputar cepat, hidup berlalu seperti debu yang terbang tanpa arah. Kesibukan telah menjauhkan dirinya dari sesuatu yang dulu pernah mengisi relung jiwanya: ketenangan.
Malam itu, ia kembali terlambat pulang dari pekerjaannya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya lebih lelah lagi. Ia merasa seperti mesin, hanya bergerak sesuai perintah tanpa pernah benar-benar hidup. Langkahnya membawanya ke sebuah taman kecil yang jarang dikunjungi orang pada jam-jam seperti ini. Lampu taman berkedip samar, menambah kesan suram pada malam yang sudah dingin.
Di bangku kayu yang basah oleh gerimis, duduk seorang pria tua dengan jubah abu-abu. Wajahnya samar dalam cahaya temaram. Hasan ragu, tapi entah mengapa, ia merasa ada daya tarik yang membuatnya ingin mendekat.
“Anak muda, apa yang kau cari?” tanya pria itu tiba-tiba, suaranya pelan namun menggema di udara.
Hasan terdiam. Pertanyaan itu menelusup jauh ke dalam benaknya. Ia ingin menjawab bahwa ia mencari kesuksesan, kedamaian, atau mungkin jawaban atas semua kegelisahannya. Tapi tidak satu pun kata keluar dari bibirnya.
“Kau terlihat seperti seseorang yang telah lama tersesat dalam kabut,” lanjut pria itu, matanya yang kelam menatap langsung ke dalam diri Hasan.
“Aku hanya sibuk,” akhirnya Hasan berkata, suaranya nyaris berbisik. “Bekerja, mengejar mimpi, bertahan hidup…”
Pria itu tersenyum tipis. “Kesibukan dunia adalah kabut tebal. Jika kau berjalan tanpa kompas, kau akan terus berputar tanpa pernah menemukan jalan keluar.”
Hasan menelan ludah. Kata-kata itu terasa terlalu akrab dengan perasaannya. Ia memang merasa seperti seseorang yang terus berjalan tanpa arah, semakin jauh dari sesuatu yang dulu pernah memberinya ketenangan.
“Lalu, di mana aku bisa menemukan jalan keluar?” tanyanya lirih.
Pria tua itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengangkat satu jari ke langit. Gerimis semakin deras, tapi dalam keheningan malam, Hasan merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti angin lembut yang menerobos ke dalam jiwanya yang gersang. Dalam sekejap, semua kebisingan dalam pikirannya lenyap.
Ia memejamkan mata. Ada sesuatu yang selama ini hilang dalam dirinya. Sesuatu yang dulu mengisi hatinya dengan ketenangan, tapi perlahan memudar saat ia tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Ia lupa. Ia terlalu sibuk hingga lupa mengingat-Nya.
Ketika ia membuka mata, pria tua itu telah menghilang, menyisakan hanya bayangan samar yang larut dalam kabut malam. Hasan duduk lama di bangku kayu, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh.
Malam itu, ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Tidak, ia belum menemukan semua jawaban, tapi setidaknya ia telah menemukan jalan untuk mencarinya. Dan jalan itu selalu mengarah pada satu hal yakni mengingat-Nya, tempat segala keresahan menemukan ketenangan.
Tekstoria.my.id- Cerpen singkat berjudul cahaya di Balik Kabut, mengajarkan kepada kita untuk jangan biarkan kesibukan dunia membuatmu lupa akan ketenangan yang sesungguhnya. Luangkan waktu untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali mengingat-Nya Cahaya di Balik Kabut Langit menggantung kelabu, seolah menyimpan rahasia yang tak seorang pun bisa ungkap. Hujan rintik-rintik membasahi trotoar kota yang lengang. Hasan…